Kementan Terjunkan Tim Investigasi Kasus Gejala Antraks Gunungkidul

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda menginformasikan, pihaknya menerjunkan tim sebagai respons cepat menelusuri atau investigasi terhadap adanya kasus gejala antraks di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

 

"Kementerian Pertanian serius menangani setiap kasus penyakit hewan menular yang muncul. Kami telah mengirimkan tim ke lokasi kasus untuk melakukan penelusuran, pengambilan sampel, dan penyuluhan kepada pemilik ternak," katanya melansir Antara, Jakarta, Kamis (20/2).

 

Dia menjamin, Kementerian Pertanian sigap menangani satu kasus antraks yang terjadi di Desa Tileng, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul.

 

Untuk itu, Tim Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates yang merupakan unit pelaksana teknis Kementan diterjunkan untuk melakukan investigasi kasus tersebut. Ditjen PKH mengaku telah meninjau laboratorium BBVet Wates pada Selasa (18/2).

 

Agung menambahkan, tim BBVet Wates juga terus berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kabupaten Gunungkidul. Pihaknya juga meminta Dinas PKH berkoordinasi lintas sektor dengan Dinas Kesehatan setempat untuk melakukan pemantauan dan cek kesehatan pada pemilik ternak atau yang memiliki riwayat kontak dengan ternak sakit.

 

Kepala BBVet Wates Hendra Wibawa mengatakan, tim BBVet Wates dan Dinas PKH Kabupaten Gunungkidul telah melakukan desinfeksi kandang secara menyeluruh pada kandang yang terdampak. Untuk memastikan dekontaminasi kuman sehingga potensi penyebaran penyakit dapat dihilangkan.

 

"Ternak-ternak yang masih ada di kandang harus diisolasi, tidak boleh dikeluarkan, dan pembatasan akses keluar masuk, serta kandang terus dijaga biosekuritinya agar ternak tidak terpapar penyakit," katanya.

 

Dia menuturkan, pengobatan antibiotik pada ternak yang sekandang telah dilakukan dan akan dilanjutkan vaksinasi antraks pada ternak tersebut setelah masa kerja atau residu antibiotik berakhir.

 

"Untuk di luar lokasi kasus, vaksinasi antraks dapat dilakukan secepatnya pada ternak-ternak yang sehat untuk mencegah penularan penyakit," ungkapnya.

 

Ia menambahkan, sampai saat ini, tidak ditemukan penularan kasus pada ternak lain dan juga tidak ditemukan kasus klinis pada manusia.

 

"Kementerian Pertanian akan terus melakukan pemantauan dan penanganan kasus antraks ini untuk mencegah penyebaran penyakit dan melindungi kesehatan hewan dan manusia," sebutnya.

 

Ditjen PKH Kementan mencatat, pada akhir Desember 2019 hingga awal 2020, terjadi kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul, DIY dengan sebanyak enam kasus positif antraks dilaporkan.

 

Terdiri dari, tiga kasus pada kambing dan dua pada sapi di Dusun Ngrejek Wetan, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong, serta satu kasus pada sapi di Dusun Janglot, Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop.

 

Saat itu, berdasarkan hasil pemeriksaan dan investigasi tim dinas dan Balai Besar Veteriner Wates, kematian ternak mencapai 79 ekor sapi dan kambing, dengan 6 kasus di antaranya akibat antraks

 

Sedangkan, kasus kematian sisanya bukan merupakan kasus antraks. Kematian ternak ini lebih banyak disebabkan oleh keracunan akibat pakan, pneumonia, kecelakaan, dan beberapa penyebab lain.

 

Lalu pada Februari-Maret 2024, kasus antraks kembali muncul di Kabupaten Sleman, DIY, tepatnya di Dusun Kalinongko Kidul, Desa Gayamharjo. Kasus ini menyebabkan kematian pada dua ekor sapi dan 10 ekor kambing. 

 

Pemerintah pusat dan daerah segera mengambil tindakan, termasuk desinfeksi, pengobatan antibiotik, pemberian vitamin, dan vaksinasi pada hewan-hewan di area terdampak. 

 

Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat dilakukan untuk mencegah konsumsi dan penjualan hewan yang terinfeksi antraks.

 

Repost dari Valid News : https://validnews.id/ekonomi/kementan-terjunkan-tim-investigasi-kasus-gejala-antraks-gunungkidul