Kesetiaan Peternak Sapi Perah yang Tak Pernah Sirna

Peternak sapi perah menjadi tulang punggung produksi susu nasional. Namun, produksi susu sapi nasional hanya memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan domestik. Di tengah berbagai tantangan, para peternak sapi setia berusaha meningkatkan produktivitas susu. Mereka juga berharap produk susu yang dihasilkan bisa menjadi bagian dalam program Makan Bergizi Gratis.

 

Hujan deras sepanjang sore tak menghentikan langkah para peternak susu di Lereng Gunung Merapi, DI Yogyakarta, Senin (17/2/2025). Dengan mengenakan sepatu bot dan jas hujan, mereka bergegas membawa wadah susu (milkcan) ke Tempat Penampungan Susu (TPS) Kelompok Boyong Sejahtera di Boyong Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

 

Langkah mereka tergesa-gesa karena susu segar yang baru diperah hanya bertahan 2 jam di suhu ruang. Begitu tiba di TPS Boyong, wadah penampung susu segera dibuka. Seorang petugas dengan sigap mengetes susu dengan mencelupkan alat pengukur kadar alkohol. Jika kadar alkohol tinggi, berarti susu telah rusak.

 

Selanjutnya, petugas mengukur berat jenis susu. Pengukuran berat jenis untuk mengetahui ada atau tidaknya pencampuran air dalam susu. Jika kualitas baik, volume susu ditakar dan nama peternak dicatat. Pembayaran produk susu lewat koperasi Sapi Merapi Sejahtera (Samesta) dengan harga rata-rata Rp 7.500 per liter.

 

Pengujian kualitas susu tak hanya di TPS. Saat susu dibawa ke unit pendingin atau cooling unit, uji kualitas kembali dilakukan untuk mengetahui apakah ada residu antibiotik di susu. Kandungan antibiotik mengindikasikan sapi sedang dalam proses pengobatan dan susu bakal ditolak pabrik.

 

Susu yang dikumpulkan 250 peternak sapi perah dari 13 kelompok yang tergabung Koperasi Samesta kemudian disimpan di unit pendingin dengan suhu maksimal 2 derajat celsius. Pagi-pagi benar, susu dipindah ke tangki truk berkapasitas 5.000 liter lalu dikirim ke pabrik PT Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM) yang merupakan bagian dari Danone Specialized Nutrition.

 

”Bisa dikatakan hampir semua susu diterima pabrik. Setiap 40 hari sekali diadakan penyuluhan, sarasehan di setiap kelompok. Jadi, peternak tahu kalau susu dikirim ke TPS, insya Allah 99,9 persen diterima,” ujar Kelik Setyawan, Cycles and Procurement Supervisor, Farmer Development PT SGM.

 

Jangankan ketika hujan, dalam keseharian, para peternak susu memprioritaskan kebutuhan sapi perah demi mendongkrak produksi dan kualitas susu. Peternak wajib memerah sapi perah rutin dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Proses pemerahan harus dilakukan di waktu yang sama agar produksi susu stabil.

 

Jadwal rutin memerah susu membuat peternak sapi perah menjadi profesi yang tak mengenal agenda cuti atau libur. Bahkan, saat Lebaran pun, mereka harus taat pada jadwal rutin memerah.

 

Kesetiaan hidup menjadi peternak dilakoni Mbah Kidi (70) di Lereng Merapi, Pakem. Dia menghabiskan harinya dari subuh hingga maghrib di kandang sapi komunal Koperasi Samesta. Mbah Kidi harus merawat 14 ekor sapinya, tujuh sapi di antaranya sedang memproduksi susu. Ketika erupsi Gunung Merapi pada 2011, tujuh ekor sapinya mati. Usai erupsi, Mbah Kidi mulai memelihara 4 ekor sapi yang kini berkembang menjadi belasan ekor. Dari beternak sapi, Mbah Kidi bisa menyekolahkan empat anaknya, hingga mereka menikah dan membangun rumah.

 

”Usia saya sudah tua, tetapi anak-anak saya tidak mampu mengurus sapi. Mereka punya usaha lain. Berhubung sudah tua, ya ini sekadar kegiatan saja,” ujar Mbah Kidi.

 

Namun, Mbah Kidi mencintai pekerjaan sebagai peternak sapi perah. Dia menjajal beternak sapi jenis jersey yang mulai dikenalkan di Indonesia pada 2021. Sapi berwarna merah kecoklatan ini memang belum banyak dipelihara peternak. Mayoritas sapi yang dipelihara adalah Friesian Holstein dengan ciri khas kulit belang hitam putih.

 

Senior Manager Public Affairs & Sustainability Danone Indonesia Arif Wahyudin mengungkapkan, PT SGM turut mengenalkan sapi jersey yang lebih tahan cuaca dan tahan penyakit. Postur badan sapi jersey yang kecil membutuhkan asupan makanan lebih sedikit. Produksi susu sapi jersey cenderung lebih rendah, tetapi kualitasnya lebih baik.

 

Jika sapi Friesian Holstein bisa memproduksi 15 liter susu per ekor per hari, sapi jersey menghasilkan 12 liter susu per ekor per hari. ”Proteinnya lebih tinggi, fat-nya lebih tinggi. Jadi, kalau dihitung total solidnya tetap lebih tinggi. Harga susunya lebih mahal, lebih menguntungkan,” tambah Arif.

 

Menjaga Kualitas

 

Tak sekadar membeli susu dari peternak, PT SGM juga mendongkrak kualitas susu dengan memperkenalkan teknologi terbaru, seperti penggunaan mesin untuk pemerahan sapi, penyediaan alat air minum otomatis, hingga fermentasi pakan silase. Pakan silase berupa hijauan yang diawetkan melalui proses fermentasi selama 16-21 hari.

 

Pakan silase disukai ternak, awet hingga satu tahun, dan menjadi solusi keterbatasan lahan untuk areal penanaman pakan. Apalagi, satu ekor sapi kira-kira membutuhkan 40 kilogram hijauan pakan ternak.

 

Ketua Koperasi Samesta Ruslan menyebut silase menggunakan bahan baku hijauan tanaman jagung dengan protein tinggi. Dari hasil uji coba konsumsi silase, volume susu terbukti terdongkrak naik 2 liter per ekor sapi. Sejak dua bulan pemakaian silase, kualitas susu terdongkrak dengan penambahan signifikan pada kadar protein, lemak, dan total solid.

 

Saat ini, jumlah kepemilikan sapi peternak rakyat rata-rata tiga ekor. Setelah mulai berproduksi pada laktasi pertama dan kedua, puncak produktivitas sapi adalah laktasi ketiga atau ketika sapi berusia 5-6 tahun. Setelah laktasi ketiga, produktivitas sapi perah biasanya menurun. Namun, peternak masih mempertahankan sapi hingga usia 7-10 tahun.

 

Untuk mempertahankan produktivitas susu, peternak juga harus memperlakukan sapi perah dengan ekstrahati-hati. Indukan sapi perah yang sedang laktasi tak boleh stres ketika proses pemerahan. Pada Selasa (18/2/2025) pukul 13.00 WIB, peternak sapi perah di Desa Jemowo Boyolali, Jenarwan, sudah bersiap memerah tujuh ekor sapi secara bergantian dengan cara manual.

 

Jenarwan tak mengizinkan ada interupsi gangguan, termasuk kehadiran tamu di kandang hingga berakhir waktu pemerahan. Untuk setiap ekor sapi dibutuhkan waktu pemerahan sekitar 15 menit.

 

Dia mulai beternak sapi perah pada 2014 dengan kredit dua ekor sapi dari Koperasi Puspetasari yang telah berkembang menjadi 15 ekor. Harga sapi perah per ekor mencapai Rp 25 juta.

 

Selain kualitas pakan, Jenarwan juga sangat memperhatikan asupan air. Apalagi, lokasi tempat tinggalnya termasuk wilayah sulit air. Pada musim kemarau, ia harus membeli satu tangki air dengan kapasitas 6.000 liter untuk pemenuhan konsumsi belasan sapi dan keluarganya dalam sepekan. Apabila kekurangan air, produksi susu bisa turun.

 

Peternak lainnya, Tumino, menambahkan, ia berupaya mendongkrak produksi susu dengan hijauan gama umami yang bisa panen setiap dua bulan. Hijauan jenis ini tumbuh subur di daerah sulit air dan digemari sapi.

 

Untuk menjual susu, peternak di Jemowo menunggu mobil pengangkut susu dari Koperasi Puspetasari yang lewat depan rumah. Selain membeli susu dengan harga Rp 6.000-Rp 8.000 per liter dari peternak, Supervisor Livestok & Fresh Milk Puspetasari Mangesti menyebut bahwa koperasi juga berperan memberikan bantuan, seperti pengobatan gratis ketika terjadi wabah PMK pada 2022.

 

Ongkos inseminasi buatan (IB) juga disubsidi dengan harga khusus. Koperasi menyediakan fasilitas kredit untuk instalasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas senilai Rp 10 juta untuk skala rumah tangga.

 

Direktur Operasional 2 Koperasi Puspetasari Edi Raharja mengatakan, koperasi menaungi 63 peternak dengan total populasi 460 ekor sapi, sebanyak 370 di antaranya memproduksi susu. Koperasi Puspetasari berpusat di Klaten, Jawa Tengah.

 

Saat ini, Koperasi Puspetasari mengirim 3.900 liter susu sapi per hari ke Sarihusada. Sisanya, sebanyak 100 liter, dilepas ke konsumen lain. ”Untuk kuota berapa pun diterima pabrik. Tahun 2025, targetnya 6.000 liter per hari. Untuk sementara terpenuhi 4.000 liter, masih kurang. Kami akan menambah populasi sapi ke peternak,” tambah Edi.

 

Merangkul Peternak 

 

Head of Climate and Water Stewardship Danone Indonesia Ratih Anggraeni mengatakan, sebanyak 18 persen kebutuhan susu di Sarihusada dipenuhi dari peternak lokal, sisanya dari susu impor. PT SGM tidak memiliki peternakan sendiri dan lebih banyak bekerja sama dengan koperasi susu dan peternak sapi perah rakyat.

 

”Kalau kita lihat landscape Indonesia, itu memang 85 persen didominasi suplainya dari microfarm. Sekitar 5 persen lagi yang medium, nah 10 persen baru yang megafarm,” ujar Ratih.

 

Saat ini, PT SGM bekerja sama dengan peternak di Klaten, Boyolali, Sleman, Pasuruan, dan Blitar. Menurut Ratih, produktivitas susu di Indonesia relatif masih rendah. Mayoritas peternak memelihara sapi Friesian Holstein dengan produktivitas rata-rata 12 liter per ekor per hari. Di peternakan skala besar di Eropa, sapi bisa memproduksi hingga 30 liter per ekor per hari dan 40 liter per ekor per hari di Amerika Serikat.

 

Ketika terjadi wabah PMK, produksi susu sapi turun 30 persen menjadi hanya 9 liter per ekor per hari. ”Yang diserang PMK, terdampak pada reproduksi sapi-sapi tersebut. Sebenarnya untuk menanggulangi PMK, yang kita lakukan bukan cuma vaksin, tetapi juga pengobatan dari reproduksi si sapi ini,” ujar Ratih.

 

Tim Ahli Kementerian Pertanian yang juga Tim Pakar Badan Gizi Nasional, Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Epi Taufik menegaskan, produksi susu nasional memang belum bisa memenuhi kebutuhan nasional. Padahal, di era Presiden Soeharto, produksi susu segar dalam negeri telah mampu memenuhi 40 persen kebutuhan nasional.

 

Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1985 tentang Pengembangan Susu Nasional dengan menggerakkan seluruh kementerian. Di era selanjutnya, tidak ada aturan yang mengatur terkait pengembangan susu nasional sehingga cenderung terabaikan, termasuk oleh pemerintah.

 

”Begitu ada MBG, akhirnya topik persusuan muncul lagi. Dan, semua baru tersadar bahwa susu segar dalam negeri tidak diurus. Untung saja ada peternak rakyat, warisan dari zaman Pak Harto masih bertahan sehingga kita masih bisa punya susu segar dalam negeri 20 persen untuk memenuhi kebutuhan nasional,” ujar Epi.

 

Seiring pertumbuhan penduduk dan tingginya kesadaran gizi masyarakat, permintaan susu naik 6 persen per tahun, tetapi produksi susu segar hanya naik 1 persen. ”Jadi, ada gap 5 persen antara supply dan demand karena populasi sapi perah kurang dan produktivitas susu kurang. Akhirnya ditutupi dengan impor,” kata Epi.

 

Untuk mendongkrak produksi susu nasional, Epi menegaskan, populasi ternak sapi perah harus ditambah, pemerintah bisa memberikan kemudahan, antara lain, dari fiskal pajak atau importasi. Impor sapi perah bisa dilakukan lewat APBN atau mendorong pihak swasta mengimpor sapi.

 

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyebut beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya produksi susu dalam negeri. Salah satunya, populasi sapi perah masih terbatas, yaitu sekitar 540.000 ekor.

 

Selain itu, produktivitas individu sapi perah juga relatif rendah, hanya sekitar 10-15 liter per ekor per hari. Sekitar 85 persen peternakan sapi perah juga dikelola peternak rakyat dengan usia rata-rata di atas 56 tahun. Kendala lainnya, sistem manajemen pakan masih sederhana dan kurang optimal.

 

”Kendala lainnya, penggunaan teknologi dalam pemeliharaan dan produksi yang minim. Ditambah lagi dengan minat generasi muda menjadi peternak masih rendah. Apalagi, dominasi produk impor di pasar yang menyebabkan persaingan harga sehingga kurang menguntungkan bagi susu segar lokal,” ujar Agung.

 

Menurut Agung, pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis guna meningkatkan produksi susu segar dalam negeri. Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN), misalnya, disusun untuk memastikan penyerapan susu segar lokal dan menekan impor. Pemerintah juga mewajibkan industri pengolahan susu (IPS) untuk menyerap susu segar lokal guna memperkuat pasar bagi peternak.

 

Untuk itulah, Agung menambahkan, program MBG juga bertujuan meningkatkan konsumsi susu segar nasional. Pemerintah juga mendorong impor indukan sapi perah berkualitas agar bisa meningkatkan populasi dan produktivitas dengan skema investasi dan kemitraan antara peternak dan investor. Hal ini dilakukan dengan memberikan dukungan regulasi yang mempermudah impor indukan sapi perah agar pasokan ternak berkualitas dapat ditingkatkan.

 

”Diversifikasi sumber impor indukan sapi perah, guna menghindari ketergantungan pada satu negara pemasok serta mendapatkan harga yang lebih kompetitif dengan kualitas yang baik,” kata Agung.

 

Masih banyak pekerjaan rumah terkait dengan produksi susu nasional yang diharapkan bisa diselesaikan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, para peternak sapi perah bisa lebih sejahtera, serta kebutuhan susu nasional segera terpenuhi.

 

Repost dari Kompas : https://www.kompas.id/artikel/peternak-sapi-perah-setia-dongkrak-produksi-susu-profesi-yang-tak-mengenal-cuti