Langkah Konkret Pemerintah Cegah Penyebaran Wabah ASF

Jakarta: Pemerintah terus memperkuat koordinasii nasional untuk menangani wabah Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF). Gerak cepat juga sudah dilakukan pemerintah untuk mencegah wabah yang melanda beberapa wilayah di Indonesia beberapa waktu terakhir ini.

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat M. Panggabean mengatakan, salah satunya adalah menyusun rencana aksi lintas kementerian dan lembaga. Ini dilakukan untuk menanggulangi penyebaran ASF. 

Kementerian Pertanian misalnya yang mengambil langkah-langkah strategis seperti, mengendalikan penyebaran ASF melalui surveilans dan deteksi dini. Berikutnya, kata dia, mempercepat penelitian dan pengembangan vaksin, serta menyediakan serum konvalesen untuk meningkatkan imunitas ternak.

Kemudian Barantin juga melakukan sejumlah upaya, diantaranya menjamin kesehatan komoditas di pelabuhan, bandara, dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Kemudian mengawasi mutu pangan dan pakan, melakukan disinfeksi di instalasi karantina hewan. 

"Dan (Barantin) aktif mengedukasi masyarakat dan stakeholder terkait penanganan ASF," kata Sahat, Jumat (20/12/2024). Selanjutnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga terus mengawasi alat angkut di pelabuhan rakyat, pelabuhan utama, dan bandara. 

Selain itu juga gencar menyosialisasikan standar pengangkutan kepada operator alat angkut. Kementerian Sosial (Kemensos) juga mengambil dua langkah strategis yaitu re-stocking populasi babi untuk membantu peternak dan kemudian mengedukasi masyarakat terdampak.

"TNI/Polri juga fokus mengawasi jalur-jalur perbatasan resmi maupun ilegal disamping mendukung operasi penegakan hukum di wilayah terdampak," ucap Sahat. Terakhir adalah Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Tekonologi yang telah melakukan riset untuk menemukan vaksin ASF. Ini sebagai solusi jangka panjang.

Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah penyebaran ASF. Sementara bagi peternak ia mengimbau untuk segera melaporkan kasus ternak yang sakit ke pihak berwenang. 

Ternak yang terinfeksi harus dimusnahkan secara aman, seperti melalui pembakaran atau penguburan. Guna menghindari penyebaran lebih luas.

“Kami juga meminta masyarakat untuk tidak membawa produk daging babi ke wilayah Papua, baik melalui jalur udara maupun laut,” ujar Sahat. Ia mengingatkan agar peternak tidak menjual babi yang sakit demi mencegah penularan di pasar tradisional.

Sahat pun optimistis bahwa dengan koordinasi yang kuat, Papua dan wilayah terdampak lainnya dapat mengatasi wabah ASF sebagaimana yang telah dicapai Bali. “Kami siap memfasilitasi kunjungan dan pelatihan bagi peternak serta pemerintah daerah untuk menerapkan langkah-langkah biosekuriti yang efektif,” katanya.

Dengan kerja sama antara kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat, pemerintah yakin bahwa peternakan babi di Indonesia akan pulih. Dengan begitu, diharapkan memberikan harapan baru bagi peternak yang terdampak wabah ASF.

 

Repost dari RRI: https://www.rri.co.id/nasional/1205466/langkah-konkret-pemerintah-cegah-penyebaran-wabah-asf