Investigasi dan Penanganan Wabah

Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 26-30 Agustus 2013 dan bertujuan memberikan informasi mengenai investigasi kasus di lapangan terutama untuk kasus yang belum diketahui penyebabnya. Insruktur pelatihan adalah Dr. Look (Chief Technical Advisor) dari FAO dan Dr. Uta (International Epidemiologist) sedangkan pendamping instruktur adalah drh. Lili dan drh. Ayu. Kegiatan ini diikuti oleh 23 peserta yang merupakan perwakilan dari Kementerian Pertanian (Balai Veteriner), Subdit Pengamatan Penyakit Hewan (P2H) Dirkeswan, Subdit Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H) Dirkeswan, Subdit Perlindungan Hewan (PH) Dirkeswan, Unit Reaksi Cepat Penyakit Hewan Menular Strategis (URC PHMS) dan beberapa Staf Dinas Propinsi/Kabupaten  yang membidangi Kesehatan Hewan di Pulau Jawa.

Acara pelatihan dibuka oleh drh. Liliek Indrayani selaku Kepala Balai Balai Veteriner Subang. Dalam kegiatan ini juga dilakukan simulasi penyidikan pada suatu kasus yang tidak diketahui penyebabnya berupa pembentukan kelompok investigasi yang anggotanya dari berbagai institusi. Lokasi penyidikan di Kampung Kiaragoong, Desa Pabuaran, Kabupaten Subang. Materi Pelatihan yang disampaikan dalam kegiatan ini ada 8 materi, antara lain :

  1. Peran, tanggungjawab dan Rencana Kontingensi (Capasities dan Responsibilities)
  2. Penyelidikan awal
  3. Persiapan ke lapangan
  4. Timelines
  5. Participatory Mapping
  6. Hypothesis Development
  7. Diseases information
    – Tracing movement
    – Tracing sugested solution
  8. Biosecurity and Outbreak Control

 

Pada kegiatan awal, peserta diinformasikan mengenai peran, tanggungjawab dan bagaimana mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengiriman tim investigasi ke daerah lokasi. Pembuatan penelusuran sejarah (timeline) pada kasus akan sangat membantu untuk mengetahui kapan kasus pertama muncul di wilayah tersebut. Peran aktif dari masyarakat dalam memberikan informasi akan memberikan berbagai kemungkinan tentang kasus yang terjadi di lapangan. Peran serta masyarakat dalam penggambaran peta kejadian kasus sangat membantu dalam proses penyidikan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk melakukan pelacakan dan pola penyebaran kasus.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga melakukan pengambilan sampel untuk pengujian, memberikan informasi ke masyarakat dalam bentuk penyuluhan atau leaflet, melakukan tindakan sanitasi dan biosekuriti sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit ke wilayah lain. Hasil pelatihan ini diharapkan bisa diterapkan peserta di instansi masing-masing terutama dalam menangani wabah “outbreak” kasus baru di lapangan.

Pada kegiatan awal, peserta diinformasikan mengenai peran, tanggungjawab dan bagaimana mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengiriman tim investigasi ke daerah lokasi. Pembuatan penelusuran sejarah (timeline) pada kasus akan sangat membantu untuk mengetahui kapan kasus pertama muncul di wilayah tersebut. Peran aktif dari masyarakat dalam memberikan informasi akan memberikan berbagai kemungkinan tentang kasus yang terjadi di lapangan. Peran serta masyarakat dalam penggambaran peta kejadian kasus sangat membantu dalam proses penyidikan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk melakukan pelacakan dan pola penyebaran kasus.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga melakukan pengambilan sampel untuk pengujian, memberikan informasi ke masyarakat dalam bentuk penyuluhan atau leaflet, melakukan tindakan sanitasi dan biosekuriti sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit ke wilayah lain. Hasil pelatihan ini diharapkan bisa diterapkan peserta di instansi masing-masing terutama dalam menangani wabah “outbreak” kasus baru di lapangan.