Kementan Sebut 17 Ribu Hewan Ternak Terjangkit PMK

Boyolali - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi kembali meningkat di Indonesia. Hingga saat ini, total sapi yang terkena virus ini mencapai 17 ribu ekor. Hal itu disampaikan Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), Sintong Hutasoit, di sela-sela pelaksanaan vaksinasi PMK di wilayah Dukuh Kedungori, Desa Kedungdowo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali.


"Indonesia sekarang sampai tanggal 13 (Januari 2025) ya, kita memang ada kasus sekitar 17 ribu, di Indonesia," katanya, Selasa (14/1/2025).

 

Diungkapkan dia, saat ini PMK memang sudah endemis di Indonesia. Setelah sekitar 32 tahun bebas PMK, mulai muncul lagi di tahun 2022 lalu hingga sekarang.

 

"Kita ketahui bahwa PMK ini kan sudah endemis di Indonesia. Ini sebagai untuk informasi kita kan kena kembali setelah kita bebas hampir 32 tahun, kemudian kita kena kembali itu adalah dimulai April 2022 sampai sekarang. Artinya kondisi ini memang terjadi peningkatan kasus," ungkap Sintong.

 

Dijelaskan dia, kasus penyakit PMK pada ternak sapi memang mengalami peningkatan sejak akhir November 2024 lalu hingga Januari 2025 ini. Dan untuk di seluruh Indonesia saat ini ada sekitar 17 ribu kasus. Jumlah tersebut untuk kasus sapi yang masih sakit.

 

Namun, dia menyebut kasus PMK sudah mulai terkendali dengan dilakukannya pengobatan untuk sapi yang sakit dan vaksinasi untuk yang sehat.


"Sudah menurun kasusnya dan sekarang sudah mulai landai lagi dan kami berharap di akhir Januari sampai ke Februari ini mungkin sudah ini sudah seperti biasa lagi," katanya.

Pihaknya menduga, peningkatan kasus ini terjadi mungkin karena ada ternak di tahun 2024 yang hanya divaksin satu kali. Kemudian di akhir tahun 2024, imunitasnya menurun.

"Nah mungkin ini yang bisa terkena infeksi, sehingga terjadi peningkatan kasus," imbuh dia.

Kasus PMK ini, ungkap dia, paling tinggi terjadi di wilayah pulau Jawa. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, dan Banten.


"Ada beberapa spot di Sumatera seperti di Lampung, ada di Aceh, ada di Sulawesi juga. Tapi sifatnya sporadik lah, spot spot. Karena kita ketahui kita sudah endemis, artinya virus ini sudah ada di lingkungan kita. Maka satu-satunya upaya kita untuk bisa mencegah, mau tidak mau harus melakukan vaksinasi. Karena virus ini tidak ada obatnya, tapi bisa dicegah melalui vaksinasi," papar Sitong.

 

Dalam upaya pencegahan ini, pemerintah pusat menggiatkan vaksinasi ternak milik warga dengan menggelontorkan vaksin ke daerah-daerah. Untuk Jawa Tengah, Pemerintah Pusat akan mendistribusikan vaksin PMK ini dalam satu tahun sebanyak 400 ribu dosis. Pada tahap awal sudah didistribusikan 40 ribu dosis.


Sintong menyatakan, program vaksinasi ini digencarkan sesegera mungkin sampai awal Maret. Sehingga diharapkan tidak mengganggu lalulintas ternak jelang Idul Adha atau hari raya Kurban mendatang.


"Maka mau tidak mau kita harus masif dan harus serempak, supaya kekebalan kelompoknya itu bisa tercapai. Sehingga nanti tidak mengganggu lalu lintas ternak pada saat Idul Kurban," tandasnya.



Repost dari Detikjateng : https://www.detik.com/jateng/berita/d-7732227/kementan-sebut-17-ribu-hewan-ternak-terjangkit-pmk