Produksi Susu Lokal Tidak Mencukupi Program Makan Siang Bergizi Gratis
PEMBERIAN susu menjadi salah satu yang disebut masuk dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Padahal, program ini sejatinya untuk meningkatkan konsumsi susu kepada anak-anak. Sayangnya, produksi susu lokal hanya bisa memenuhi 20% kebutuhan nasional. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengatakan produksi susu dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan nasional disebabkan karena berbagai faktor.
"Kondisi saat ini, hanya sekitar 20 persen bahan baku susu yang dipasok dari dalam negeri," kata Putu, Kamis (5/12).
Ia menyebut berbagai faktor menjadi penyebab rendahnya produksi susu di Indonesia. Mulai dari sedikitnya jumlah sapi perah hingga tingginya rasio biaya pakan dengan hasil produksi susu.
"Kendala utama dalam pengembangan produksi susu segar dalam negeri (SSDN) adalah masih sedikitnya populasi sapi perah di Indonesia, sekitar 592 ribu ekor," papar Putu.
Adapun lonsumsi susu per kapita di Indonesia masih jauh di bawah rata-rata ASEAN, hanya mencapai sekitar 16,27 kg/kapita/tahun. Di tengah ramainya isu impor susu untuk program MBG, muncul pemberitaan terkait susu formula asal Tiongkok bermerek Feihe. Namun, sebagai alternatif menghadirkan susu murah, muncul ide penggunaan susu ikan (hidrolisat protein ikan) muncul. Inisiatif ini menghadapi tantangan karena masalah rasa, kualitas nutrisi, dan potensi risiko kesehatan dari produk ultra-proses.
Ekstrak protein ikan tidak termasuk dalam kategori susu. Berdasarkan CODEX Alimentarius yang merupakan standar, pedoman, dan kode praktik pangan internasional, susu adalah cairan yang keluar dengan normal dari hewan perah atau mamalia yang diperoleh dari pemerahan tanpa penambahan ekstraksi. (H-3)
Repost dari MediaIndonesia : https://mediaindonesia.com/humaniora/723738/produksi-susu-lokal-tidak-mencukupi-program-makan-siang-bergizi-gratis-#google_vignette