Vaksinasi PMK di Blitar Berjalan, Diprioritaskan ke Sapi Perah
Blitar - Pemerintah Kabupaten Blitar memberikan prioritas pada hewan ternak sapi perah dalam program vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) menggunakan bantuan 7.050 dosis vaksin dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar Eko Susanto mengatakan, pihaknya memberikan prioritas pada sapi perah meskipun populasinya jauh lebih sedikit dibandingkan populasi sapi potong atau sapi pedaging.
“Kami prioritaskan penggunaan vaksin PMK dari Pemprov itu pada sapi perah karena sapi perah ini rentan terhadap dampak PMK,” ujar Eko saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (22/1/2025) sore.
Berdasarkan pendataan hingga akhir 2024, populasi sapi perah di Kabupaten Blitar sebanyak 21.626 ekor, sedangkan populasi sapi potong 6,5 kali lebih banyak, yakni 142.081 ekor. “Dari 7.050 dosis vaksin PMK yang kami terima, sebanyak sekitar 3.000 dosis kita berikan pada sapi perah,” kata Eko.
Menurutnya, prioritas vaksinasi pada sapi perah dilakukan karena produktivitas susu akan langsung turun drastis hingga 50 persen atau lebih jika seekor sapi perah terjangkit PMK. Padahal, kata dia, produksi susu nasional masih sangat rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan, yakni hanya sekitar 22 persen dari kebutuhan nasional. “Ini menjadi pertimbangan penting karena dampak PMK pada sapi perah sedemikian besar, terutama pada produktivitas susu,” ujarnya.
Sekitar 4.000 dosis sisanya, kata Eko, digunakan untuk vaksinasi sapi potong di wilayah-wilayah di mana terdapat konsentrasi kasus PMK, antara lain di Kecamatan Panggungrejo, Nglegok, Gandusari, Kanigoro, Talun, Garum, Wates, dan Udanawu. Berdasarkan pembaruan data kasus PMK hingga Selasa (21/1/2025), tercatat total sebanyak 551 kasus sejak lebih dari sebulan lalu dengan jumlah kematian 38 ekor, potong paksa 17 ekor, dan sembuh 261 ekor. Sebanyak 235 di antaranya masih sakit.
Pararel dengan proses vaksinasi, kata Eko, pihaknya gencar memberikan edukasi kepada peternak cara mencegah penyebaran PMK serta cara menangani hewan ternak yang terjangkit PMK. Vaksinasi, lanjutnya, bukan satu-satunya cara pencegahan penyebaran PMK. “Kami berikan edukasi pencegahan dengan menjaga kebersihan kandang, menu makanan bergizi untuk menjaga kesehatan hewan ternak termasuk pemberian vitamin,” tuturnya.
“Ternak juga harus mendapatkan divaksin sekian kali dengan interval pemberian vaksin 6 bulan. Jika tidak ada program vaksinasi dari pemerintah, mau tidak mau harus vaksinasi mandiri,” ucap Eko. Pihaknya juga meminta peternak untuk tidak panik menghadapi kasus penyebaran PMK dengan menjual murah ternak mereka. Menurutnya, “jual panik” (panic selling) di kalangan peternak akibat penyebaran PMK telah mengakibatkan kerugian besar bagi mereka karena menjual murah hingga kurang dari separuh harga normal.
Di Kabupaten Blitar, tercatat total populasi hewan ternak ruminansia yang bisa terjangkit PMK sebanyak 570.542 ekor, terdiri dari sapi potong 142.081 ekor, sapi perah 21.626 ekor, kerbau 361 ekor, kambing 380.740 ekor, kambing perah 3.215, domba 19.133 ekor, babi 3.184 ekor, dan rusa 112 ekor.
Repost dari Kompas : https://regional.kompas.com/read/2025/01/22/220147478/vaksinasi-pmk-di-blitar-berjalan-diprioritaskan-ke-sapi-perah