Barantin Pastikan Daging Sapi Impor Aman dan Sehat Dikonsumsi
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat Manaor Panggabean memastikan, sapi yang diimpor dari Australia aman dan sehat untuk dikonsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
Sahat menegaskan, sapi yang diimpor telah melalui serangkaian pemeriksaan ketat mulai dari proses pemasukan, pembesaran, hingga pengiriman ke pasar. Dengan demikian, dia memastikan, daging yang didistribusikan kepada masyarakat dalam keadaan sehat.
“Kita coba pastikan juga bahwa dari mulai dari pemasukan, pembesaran sampai nanti dikirim ke market itu semuanya itu diperiksa dengan baik,” kata Saat usai monitoring sapi impor dari Australia di PT Lembu Jantan Perkasa, Purwakarta, Selasa (25/2).
Sahat menjelaskan, semua pemasukan sapi tersebut telah mengikuti tahapan biosecurity yang ketat dan telah divaksinasi. Oleh karena itu, sapi-sapi tersebut dipastikan bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD)
“Tadi kita pastikan semua sapi itu sudah divaksin. Jadi, sapi itu benar-benar sehat selama di sini. Dan ini pun kita tetapkan sebagai instalasi karantina itu kita pastikan bahwa semua proses di sini sudah sesuai secara karantina,” kata Sahat.
Lebih lanjut, Sahat juga memastikan bahwa sapi yang masuk ke Indonesia berasal dari kandang-kandang yang sehat di Australia.
“Nah, itu jadi mulai dari negara asal kami sudah melakukan kunjungan ke sana. Terutama di negara bagian Darwin, kita lihat dan kita pastikan yang dikirim itu adalah semuanya memang sehat,” imbuh birokrat dan peneliti Indonesia ini.
Sementara itu, Corporate Communication PT Lembu Jantan Perkasa, I Ketut Karya Wisana, mengatakan bahwa pihaknya menerima sapi impor dari Australia pada tanggal 20 Februari sebanyak 1.699 ekor, yang terdiri dari 184 ekor indukan (heifer) dan 1.515 ekor bakalan (feeder).
Jumlah sapi tersebut terbagi di dua lokasi, yaitu di Serang yang menampung 92 ekor indukan dan 815 ekor bakalan, serta di Purwakarta yang menampung 92 ekor indukan dan 700 ekor bakalan.
I Ketut menambahkan, sapi-sapi tersebut belum akan dilepas ke pasaran dalam waktu dekat. Selain harus menjalani fase karantina selama 14 hari, sapi impor yang masuk juga akan mengikuti tahap penggemukan selama 90 hari sebelum akhirnya dilepas ke pasar.
“Kita ada proses pengemukan dulu, sekitar 90 hari. Pertama kan melewati proses karantina dulu, ya 14 hari. Setelah setelah lepas karantina, masuk fase proses pengemukan 90 hari,” ujar I Ketut.
Meski demikian, I Ketut mengatakan, pihanya sudah menyiapkan 4.000 ekor sapi untuk kebutuhan masayarakat Serang dan Purwakarta selama Ramadan dan Idulfitri.
“Untuk di Purwakarta dan Serang, kita punya sekitar 4.000 ekor. Udah siap dijual, siap dilepas. Udah menghadapi puasa dan hari raya,” kata dia.
Deputi Bidang Karantina Hewan Sriyanto menyampaikan, pada tahun ini, selain pemasukan sapi bakalan yang akan digemukkan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga mewajibkan adanya importasi sapi indukan.
Selain importasi sapi tersebut, menurut Sriyanto, Barantin juga tengah melakukan pengawasan pemasukan sekitar 13 ribu ton daging sapi dan 16 ribu ton daging kerbau yang akan berlangsung selama dua bulan pertama di tahun 2025.
Sriyanto juga menjelaskan, tindakan karantina hewan di IKH meliputi beberapa tahapan yaitu desinfeksi, vaksinasi, pengambilan sampel dan uji laboratorium, pengamatan dan pengasingan, serta pembebasan.
Selain itu, sapi juga diberikan vaksinasi LSD dan PMK untuk mencegah penyebaran penyakit yang berpotensi merugikan sektor peternakan. LSD dapat menyebabkan benjolan pada kulit sehingga sapi tidak nafsu makan serta mengakibatkan penurunan berat badan yang sangat merugikan peternak.
Sementara PMK merupakan penyakit yang menyebabkan lepuh-lepuh pada sapi di sekitar mulut dan kaki yang dapat berdampak pada penurunan produktifitas sapi dan dapat menyebabkan kematian apabila terjadi infeksi sekunder oleh penyakit selain PMK.
Repost dari Hortus : https://news.majalahhortus.com/barantin-pastikan-daging-sapi-impor-aman-dan-sehat-dikonsumsi/