Di Tengah Lonjakan Harga Telur Dunia, Indonesia Justru Stabil dan Surplus
Di tengah fenomena eggflation yang melanda berbagai negara dan menyebabkan lonjakan harga telur, Indonesia justru menunjukkan kondisi yang berbeda. Produksi telur nasional melimpah dan harga tetap stabil.
Per 25 Maret 2025, harga telur ayam ras di negeri berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 29.475 per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di negara lain.
Di Swiss, misalnya, harga telur kini sudah tembus Rp 113.534 per kilogram, di Selandia Baru Rp103.063 per kilogram, Amerika Serikat Rp 68.103 per kilogram, dan Prancis Rp 67.606 per kilogram.
“Bersyukurlah kita, harga telur di Indonesia terendah di dunia, hanya US$1,5 atau Rp 24.000 per kilogram,” kata Mentan Amran ditemui di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kanpus Kementan), Jakarta, Rabu (26/3).
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda, menyebut Indonesia lebih unggul dalam menjaga stabilitas harga telur dibanding banyak negara lain.
Bahkan, negara-negara yang selama ini menjadi pemasok utama ayam grandparent stock (GPS) ke Indonesia, seperti Amerika Serikat dan Prancis, kini justru menghadapi krisis pasokan dan lonjakan harga telur.
“Kami terus memperkuat rantai pasok, meningkatkan efisiensi produksi, dan mendukung peternak agar pasokan tetap stabil dan harga terjangkau,” kata Agung.
Agung menjelaskan, kebijakan Kementan berhasil menjaga harga telur tetap stabil di dalam negeri. Keberhasilan ini berkat upaya untuk menjaga produksi telur dengan mengatur usia ayam petelur dan memantau pasokan secara rutin.
“Kementan mendorong peternak untuk mengatur flock pemeliharaan dengan minimal empat variasi umur berbeda agar produksi tetap konsisten,” ujar Agung.
Selain itu, peternak unggulan di daerah sentra produksi dikonsolidasikan untuk mengintervensi pasokan ke wilayah-wilayah yang mengalami defisit. Pemantauan harga dan operasi pasar juga dilakukan secara rutin untuk memastikan kestabilan pasokan.
Keberhasilan ini juga didukung oleh kestabilan pasokan pakan ternak. Kementan memastikan stok jagung tetap aman, memperkuat distribusi, dan mencari alternatif bahan pakan guna menjaga kelancaran produksi telur.
“Pakan yang stabil adalah kunci ketahanan industri perunggasan,” ujar Agung.
Agung menambahkan, produksi telur nasional mencapai 6,4 juta ton per tahun, dengan kebutuhan sekitar 518 ribu ton per bulan. Artinya, Indonesia dalam kondisi surplus.
Surplus produksi ini membuka peluang ekspor. Indonesia tengah mengkaji ekspor telur ke negara-negara yang mengalami kekurangan, termasuk Amerika Serikat.
“Kami siap mengirim hingga 1,6 juta butir telur per bulan tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri,” kata Agung.
Repost dari Majalah Hortus : https://news.majalahhortus.com/di-tengah-lonjakan-harga-telur-dunia-indonesia-justru-stabil-dan-surplus/