Mengoptimalkan Keterlibatan Peternak Unggas dalam Program Makan Bergizi Gratis
Sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai banyak pro kontra dari masyarakat, tak terkecuali dari sektor perunggasan. Program ini dinilai berpeluang menjadi solusi untuk menuntaskan persoalan oversupply baik daging maupun telur yang terjadi pada industri perunggasan sejak 10 tahun terakhir.
Dalam wawancara di sebuah media secara daring, Selasa, (18/2), Wahyudi selaku Sekjen Garda Organisasi Peternak Ayam Indonesia (GOPAN) enyampaikan bahwa sebulan setelah pelaksanaan program MBG ini, peternak belum merasakan perubahan yang signifikan terkait penyerapan kelebihan pasok.
“Sebelum ada program Makan Bergizi Gratis, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencoba untuk menyalurkan produk dari peternak melalui program stunting, artinya ayam-ayam dari peternak itu kemudian didistribusikan setelah bekerja sama dengan Rumah Potong Ayam (RPA) dan pelaku-pelaku yang besar untuk didistribusikan pada rakyat yang mengalami masalah stunting atau ketertinggalan asupan gizi kurang lebih ada 1.400 keluarga di 7 provinsi penerima bantuan,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menerangkan langkah lainnya yang sudah berjalan adalah peternak dibantu oleh Kementan melalui PKH bekerja sama dengan perusahaan besar untuk distribusi yang lebih merata, lalu upaya yang ketiga adalah program MBG ini yang mendapat respon baik dari peternak maupun pelaku usaha perunggasan di Indonesia.
“Yang harus dievaluasi dari program ini adalah bagaimana MBG bisa menyerap produksi ayam dan telur di tanah air, keterlibatan dari UMKM dan peternak kecil sangat diharapkan karena akan berdampak langsung. Setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini peternak dalam kondisi merugi akibat oversupply, maka dapur-dapur yang sedang digalakkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) ini harus dipercepat. Terakhir baru ada 241 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi, secara nilai masih rendah, jika dibandingkan dengan produksi nasional.”
Terkait dengan oversupply, Sugeng menjelaskan bahwa komunikasi dengan Kementan telah sering dilakukan, tetapi belum ada koordinasi dengan Badan Gizi Nasional. Menurutnya, komunikasi yang terjalin antara peternak dengan Kementan ini nampaknya harus ditiru oleh Badan Gizi Nasional untuk memudahkan distribusi pangan berkaitan dengan MBG.
Senada dengan hal tersebut, Singgih Januratmoko selaku Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) menyampaikan harapannya agar ada peningkatan dan optimalisasi serapan produk perunggasan melalui program MBG. Ia menjelaskan saat ini MBG baru menyasar 700 ribu pelajar dan kondisi ini belum terlalu berdampak pada oversupply yang terjadi.
“Mungkin apabila sudah mencapai 82 juta penerima kita baru bisa merasakan dampaknya, hitungan kita kemarin satu dapur itu satu minggu konsumsi sekitar 600-800 kilo ayam dan 200 kilo telur yang artinya dalam satu bulan bisa menyerap 6 juta populasi ayam dan dengan serapan sebanyak itu sudah bisa menutupi oversupply,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai komunikasi terkait MBG, Singgih merasa komunikasi yang terjalin belum terlalu intens, sosialisasi dengan peternak terkait apa yang harus diperbuat, rantai pasoknya bagaimana, supplynya bagaimana hingga bobot dan kualitas ayam yang diterima itu belum ada kejelasan. Jadi komunikasi saat ini masih terbatas pada dapur langsung pada peternak supplier.
“Seperti yang tadi disampaikan, dalam 10 tahun terakhir industri perunggasan memang mengalami oversupply, dan pemerintah sudah banyak bertindak melalui Kementan. Tetapi masih kurang efektif karena meskipun sudah ada harga acuan pembelian hari ini untuk ayam 23.000 dan telur juga 23.000. Untuk telur mungkin masih diatas HPP, tetapi untuk ayam dengan harga jual 23.000 itu peternak menjual 18.000 masih dibawah HPP,” ungkapnya.
Terlebih diperparah dengan harga pakan yang fluktuatif, harga pakan tentunya sangat berkaitan dengan harga bahan baku. Bahan baku pakan terbesar adalah jagung, saat harga jagung tinggi otomatis harga pakan meroket juga dan makin membebani peternak, saat harga jagung turun maka harga pakan menyesuaikan.
Repost dari Poultry Indonesia : https://www.poultryindonesia.com/id/mengoptimalkan-keterlibatan-peternak-unggas-dalam-program-makan-bergizi-gratis/