Sejak 2012, Ridwan mengembangkan usaha pengolahan limbah peternakan menjadi pupuk organik di Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Melalui usaha yang dikelolanya, kotoran sapi, kambing, ayam, dan itik diolah bersama berbagai bahan organik lainnya menjadi pupuk yang dipasarkan ke sejumlah daerah.
Perjalanan usaha ini memperlihatkan bagaimana bahan yang sebelumnya kurang bernilai dapat menjadi produk komersial ketika dikelola dengan tepat. Tidak hanya mengandalkan potensi bahan baku di sekitar tempat usaha, Ridwan juga membangun jaringan pemasok dari berbagai daerah untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Saat dikunjungi pada Minggu (11/10), area produksi tampak dipenuhi tumpukan bahan organik yang menunggu diproses. Di bagian lain, karung-karung pupuk yang telah dikemas terlihat siap dikirim kepada pelanggan. Aktivitas tersebut menggambarkan proses panjang di balik produk pupuk organik yang kini menjangkau pasar lintas provinsi.
Mengembangkan usaha pupuk organik tidak cukup hanya dengan mengumpulkan kotoran ternak. Ketersediaan bahan baku dalam jumlah memadai, kualitas material, serta proses pengolahan yang tepat menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan produksi.
Karena itu, Ridwan memperluas jaringan pasokan hingga ke sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Bahan yang digunakan meliputi kotoran sapi, kambing, ayam, dan itik, serta boiler sawit, dolomit, serbuk gergaji, sekam bakar, dan ampas tebu.
Salah satu bentuk kerja sama yang dikembangkan adalah melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan perusahaan pemasok ternak kambing di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.
Kerja sama tersebut memungkinkan pasokan kotoran kambing dikirim ke lokasi produksi di Sidrap dalam jumlah besar.
“Kebetulan kami ada MoU dengan salah satu perusahaan suplayer ternak kambing di Polman untuk mengirim kohe kambingnya dan itu dikirim ratusan ton,” kata Ridwan.
Untuk bahan lainnya, boiler sawit didatangkan dari Kabupaten Luwu Timur, dolomit dari Barru, sedangkan ampas tebu diperoleh dari Pabrik Gula Arasoe di Kabupaten Bone. Sementara itu, sekam bakar dan serbuk gergaji memanfaatkan potensi bahan yang tersedia di sekitar lokasi usaha.
Jaringan pemasok tersebut menjadi bagian penting dalam mengembangkan usaha pengolahan limbah. Bahan yang berasal dari berbagai sektor dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak sekadar menjadi sisa produksi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
Di balik produk pupuk organik yang siap dipasarkan, terdapat serangkaian tahapan pengolahan yang harus dilakukan. Bahan baku yang terkumpul terlebih dahulu ditangani menggunakan alat berat, kemudian dicampur dengan komposisi tertentu sesuai kebutuhan produksi.
Dalam proses tersebut, Ridwan menggunakan dekomposer dan molases untuk membantu penguraian bahan organik. Campuran selanjutnya menjalani fermentasi selama sekitar 14 hari sebelum dipersiapkan untuk pengemasan.
Pengolahan berbagai jenis bahan organik membutuhkan perhatian terhadap komposisi, tingkat kematangan, dan kualitas produk akhir. Hal ini penting agar pupuk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan penggunaannya di lahan pertanian.
Pupuk organik yang matang dan berkualitas dapat membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, serta menambah kandungan bahan organik. Manfaat tersebut menjadikan pengolahan limbah peternakan sebagai salah satu peluang untuk mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.
Bagi Ridwan, pemanfaatan beragam bahan organik juga membuka ruang untuk mengembangkan usaha yang tidak hanya bertumpu pada satu sumber bahan baku. Dengan jaringan pasokan yang luas, kegiatan produksi dapat memanfaatkan potensi limbah dari berbagai sektor.
Seiring perkembangan usaha, pemasaran pupuk organik yang dihasilkan Ridwan tidak lagi terbatas di sekitar Sidrap. Produk tersebut telah menjangkau sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, seperti Maros, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Wajo, serta Enrekang.
Pasarnya juga meluas ke berbagai wilayah di luar Sulawesi Selatan, antara lain Banggai, Majene, Mamasa, Konawe Selatan, hingga Gorontalo.
Jangkauan pemasaran tersebut menunjukkan adanya peluang bagi produk pupuk organik untuk berkembang di tengah kebutuhan sektor pertanian terhadap bahan pembenah tanah dan sumber bahan organik. Perusahaan juga mencatat permintaan dari berbagai daerah, meskipun angka pemesanan tidak dirinci dalam tulisan ini.
Ke depan, Ridwan menargetkan pengembangan produksi dan distribusi agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Pada 2027, usaha yang dikelolanya membidik peningkatan produksi dan distribusi hingga puluhan ribu ton.
Perusahaan tersebut juga menyatakan telah mengantongi izin untuk menjalankan kegiatan usahanya. Dengan dukungan pasokan bahan baku dan jaringan pemasaran yang terus dikembangkan, usaha pupuk organik ini berupaya memperkuat posisinya di pasar.
Repost dari Tabloid Sinar Tani : https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-profil/28196-Olah-Kotoran-Ternak-Jadi-Pupuk-Organik-Bisnis-Pengusaha-Sidrap-ini-Tembus-Pasar-Lintas-Provinsi

